Showing posts with label PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Show all posts

Prinsip-Prinsip Dan Macam-Macam Alat Evaluasi

Prinsip-Prinsip Dan Macam-Macam Alat Evaluasi

sumber: https://www.tokopedia.com

Prinsip-Prinsip Evaluasi

Evaluasi hasil belajar dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini: (Anas Sudijono, 2011)

1. Prinsip Keseluruhan

Evaluasi yang berprinsip keseluruhan atau menyeluruh atau komprehensif, adalah evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh, menyeluruh. Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa, dalam pelaksanaannya evaluasi tidak dapat dilaksanakan secara terpisah, tetapi mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan, atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri peserta didik, sebagai makhluk hidup dan bukan benda mati.

 

Terkait hal tersebut, evaluasi diharapkan tidak hanya menggambarkan aspek kognitif, tetapi juga aspek psikomotor dan afektif pun diharapkan terangkum dalam evaluasi. Jika dikaitkan dengan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian bukan hanya menggambarkan pemahaman siswa terhadap materi, melainkan juga harus dapat mengungkapkan sudah sejauh mana peserta didik dapat menghayati, serta mengimplementasikan materi tersebut dalam kehidupannya. Jika prinsip evaluasi keseluruhan tersebut dilaksanakan, akan diperoleh bahan-bahan keterangan dan informasi lengkap, terkait keadaan dan perkembangan subjek didik yang sedang dijadikan sasaran evaluasi.

2. Prinsip Kesinambungan

Penilaian yang berkesinambungan ini artinya adalah penilaian yang dilakukan secara terus menerus, sambung menyambung dari waktu ke waktu. Penilaian secara berkesinambungan ini akan memungkinkan si penilai memperoleh informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan atau perkembangan peserta didik sejak awal mengikuti program pendidikan sampai dengan saat-saat mereka mengakhiri program-program pendidikan yang mereka tempuh.

3. Prinsip Objektivitas

Prinsip objektivitas mengandung makna bahwa, evaluasi hasil belajar terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subjektif. Orang juga sering menyebut prinsip objektif dengan sebutan “apa adanya”. Istilah apa adanya tersebut mengandung pengertian bahwa, materi evaluasi tersebut bersumber dari materi atau bahan ajar yang akan diberikan sesuai, atau sejalan dengan tujuan instruksional khusus pembelajaran.

 

Dilihat dari pemberian skor dalam evaluasi, istilah apa adanya tersebut mengandung pengertian bahwa pekerjaan koreksi, pemberian skor, dan penentuan nilai terhindar dari unsur-unsur subjektivitas yang melekat pada diri tester. Dalam hal ini, tester harus dapat mengeliminasi sejauh mungkin kemungkinan-kemungkinan “hallo effect” yaitu, jawaban soal dengan tulisan yang baik mendapat skor lebih tinggi daripada jawaban soal yang tulisannya lebih jelek, padahal jawaban tersebut sama. Demikian pula “kesan masa lalu” dan lain-lain harus disingkirkan jauh-jauh,sehingga evaluasi nantinya menghasilkan nilai-nilai yang objektif. 


Sebenarnya bukan hanya 3 (tiga) prinsip di atas yang menjadi ukuran dalam untuk melakukan evaluasi. Dimyati dan Mujiono menyebutkan bahwa evaluasi yang akan dilakukan juga harus mengikuti beberapa hal berikut: (Dimyati, 2006)

Kesahihan

Sebuah evaluasi dikatakan valid jika evaluasi tersebut secara tepat, benar, dan sahih telah mengungkapkan atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Agar diperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan instrumen yang memiliki/memenuhi syarat kesahihan suatu instrumen evaluasi.

Keterandalan

Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan yaitu tingkat kepercayaan bahwa, suatu evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat. Maksud dari pernyataan tersebut adalah jika suatu eveluasi dilakukan pada subjek yang sama, evaluasi senantiasa menunjukkan hasil evaluasi yang sama, atau sifatnya stabil. Dengan demikian suatu ujian, misalnya, dikatakan telah memiliki reliabilitas apabila skor-skor atau nilai-nilai yang diperoleh para peserta ujian untuk pekerjaan ujiannya adalah stabil, kapan saja, dimana saja ujian itu dilaksanakan, dan oleh siapa saja pelaksananya.

Kepraktisan

Kepraktisan suatu evaluasi bermakna bahwa, kemudahan-kemudahan yang terdapat pada instrumen evaluasi, baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi, memperoleh hasil maupun kemudahan dalam menyimpan.

Macam-Macam Alat Evaluasi

Berdasarkan dari pengertian dan fungsi tes diatas, tes digolongkan menjadi 5 (lima) golongan di antaranya adalah sebagai berikut: (Mulyadi, 2010)

1. Menurut sifatnya, tes dapat dikelompokkan menjadi:

a. Tes verbal, terdiri dari; Tes lisan (oral test) dan Tes tulis (written test);

b. Tes nonverbal, Yaitu tes yang tidak menggunakan bahasa sebagai alat untuk melaksanakan tes, tetapi menggunakan gambar, memberikan tugas dan sebagainya, atau dengan tes ini tester menghendaki adnya respon dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku. Jadi, respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.

2. Menurut tujuannya, tes dapat dikelompokkan menjadi:

a. Tes Bakat (Aptitude Test), Yaitu tes yang digunakan untuk menyelidiki bakat seseorang. Tes bakat biasanya digunakan untuk mengetahui kemampuan dasar yang bersifat potensial;

b. Tes Intelegensi (Intelligence Test), Yakni tes yang dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang;

c. Tes Prestasi Belajar (Achievement Test), Yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui prestasi seseorang siswa dari mata pelajaran yang telah diberikan. Sehingga dengan adanya tes hasil belajar ini, guru bisa mengetahui apakah pelajaran yang telah diberikan mencapai tujuan sesuai dengan target yang telah ditentukan;

d. Tes Diagnostik (Diagnostic Test), Yaitu tes yang digunakan untuk menggali kelemahan atau problem yang dihadapi siswa, terutama kelemahan yang dialami siswa saat belajar;

e. Tes Sikap (Attitude Test), Yaitu tes untuk mengetahui sikap seseorang siswa terhadap sesuatu;

f. Tes Minat, Yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui minat siswa terhadap hal-hal yang disukai. Sehingga melalui tes tersebut dapat diketahui apa yang disukai oleh siswa.

3. Menurut pembuatannya, tes dapat dikelompokkan menjadi:

a. Tes Terstandar (Standard Direct Test), Tes standar atau tes yang dibakukan mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid yang lain pada usia atau level yang sama dan dalam kasus perbandingan ini dilakukan ditingkat nasional. Biasanya tes ini dibuat oleh sekelompok(tim) yang ahli di bidang pembuatan tes;

b. Tes Buatan Guru (Teacher Made Test), Tes buatan guru cenderung difokuskan pada tujuan instruksional untuk kelas tertentu. Tes buatan guru adalah tes yang dibuat oleh guru untuk kepentingan prestasi belajar.

4. Menurut bentuk soalnya, tes dikelompokkan menjadi:

a. Tes Subjektif, Yaitu pada umumnya berbentuk uraian

b. Tes Objektif, Yaitu bentuk tes yang mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih oleh peserta didik

5. Ditinjau dari objek yang dites, maka tes dikelompokkan menjadi:

a. Tes Individual, Yaitu suatu tes yang dalam pelaksanaannya per orangan sehingga memerlukan waktu yang cukup Panjang;

b. Tes Kelompok, Yaitu tes yang dilakukan terhadap beberapa murid dalam waktu yang sama.

Rujukan

Anas Sudijono. (2011). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Baharun, H. (2016). Penilaian Berbasis Kelas Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di

Madrasah. MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, 3(2), 205.

Dimyati, M. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Mulyadi. (2010). Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan di

Sekolah. Malang: UIN-Maliki Press.

Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Dunia Pendidikan

Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Dunia Pendidikan

sumber : https://fkip.umsu.ac.id

Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Pengembangan Kurikulum

Psikologi sebagai sebuah ilmu yang menjelaskan kepribadian manusia memberikan kontribusi terhadap pengembangan kurikulum. Menurut Meggi Ing (1978) terdapat 2 (dua) kontribusi psikologi dalam pengembangan kurikulum, di antaranya: (Idi, 2010)

1. Model konseptual dan informasi yang akan membangun perencanaan Pendidikan;

2. Berisi terkait berbagai metodologi yang dapat diaplikasikan dalam penelitian Pendidikan.

 

Beberapa hal terkait pengembangan model pembelajaran, metode pembelajaran dan mata pelajaran yang ditempuh seringkali muncul karena kurangnya informasi yang terkait dengan sisi psikologis peserta didik. Maka, peran psikologis sebagai sebuah disiplin ilmu yakni memberikan informasi tambahan kepada guru dan pihak terkait dalam pengembangan kurikulum berdasarkan teori yang terdapat di dalamnya, serta berorientasi pada sisi kepribadian peserta didik.

 

Dalam perspektif psikologis, peserta didik memiliki beberapa karakter yang unik. Karakter tersebut berbeda dari satu dengan yang lainnya. Perbedaan demikian terdapat pada minat, bakat dan masa perkembangan yang dialami oleh seorang peserta didik. Pemahaman tentang peserta didik harus menjadi fokus utama bagi seorang pengembang kurikulum. Apabila pengembang tidak memahaminya dengan baik, maka akan menimbulkan berbagai macam masalah kependidikan, dan tentunya tujuan pendidikan yang ingin dicapai akan terhambat.

 

Di dalam mengambil keputusan tentang pengembangan kurikulum, pengetahuan tentang psikologi peserta didik sangat dibutuhkan. Hal demikian terkait dengan perkembangan psikologis dan model belajar peserta didik. Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum: (Zaini, 2009)

1. Seleksi dan organisasi bahan pelajaran;

2. Menentukan kegiatan pembelajaran dengan efektif dan efisien;

3. Merencanakan kondisi belajar yang optimal, sehingga tujuan pembelajaran akan segera tercapai.

 

Di dalam proses pengembangan kurikulum, setidaknya terdapat 2 (dua) disiplin ilmu psikologi yang dapat digunakan oleh pengembang kurikulum, antara lain: (Mohammad Ansyar, 2015)

1. Psikologi Perkembangan, yakni meninjau peserta didik dari aspek perkembangan fisiknya; dan

2.  Psikologi belajar, yakni meninjau perkembangan peserta didik dari model serta tata cara dalam belajar.

 

Hal demikian sesuai dengan pernyataan Print (1993) bahwa kontribusi psikologi dalam kurikulum signifikan dan berkembang. Sebab, psikologi memberikan gambaran terkait deskripsi, keterangan, prediksi dan investigasi tingkah laku manusia. Sedangkan menurut Berliner (1993) bahwa psikologi telah memberikan perspektif berdasarkan pada temuan riset ilmiah tentang pengetahuan bagaimana berpikir dan belajar saling berkaitan.

 

Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Sistem Pembelajaran

Psikologi pendidikan memberikan banyak kontribusi kepada guru dan calon guru untuk meningkatkan efisiensi proses pembelajaran pada kondisi yang berbeda-beda. Berikut terdapat beberapa manfaat dalam mempelajari psikologi pendidikan: (Novianti, 2015)

1. Memahami Perbedaan Siswa (Diversity of Student)

Setiap individu dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda-beda, tidak ada yang sama antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami keberagaman siswa, mulai dari perbedaan tingkat pertumbuhan, tugas perkembangan sampai pada masing-masing potensi yang dimiliki oleh siswa. Dengan pemahaman guru yang baik terhadap siswanya, maka dapat menciptakan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien, serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif;

2. Memilih Strategi dan Metode Pembelajaran

Sebagai Seorang pendidik dalam memilih strategi dan metode pembelajaran harus menyesuaikan dengan tugas perkembangan dan karakteristik masing-masing peserta didik. Hal demikian diperoleh seorang guru melalui pengetahuan keilmuan psikologi, terutama tugas-tugas perkembangan manusia. Jika metode dan model pendidikan dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didik, maka proses pembelajaran akan berjalan dengan maksimal;

3. Untuk menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif di dalam Kelas

Kemampuan guru dalam menciptakan iklim dan kondisi pembelajaran yang kondusif, mampu membantu proses pembelajaran berjalan secara efektif. Seorang guru harus mengetahui prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda menyesuaikan karakteristik siswa dalam mengajar untuk menghasilkan proses belajar mengajar yang lebih baik. Dalam hal tersebut, peran psikologi pendidikan mampu mengajarkan bagaimana seorang guru mampu memahami kondisi psikologis, serta menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas dapat berjalan secara efektif;

4. Memberikan Bimbingan dan Pengarahan kepada Peserta didik

Selain berperan sebagai pendidik di dalam kelas, seorang guru juga diharapkan dapat menjadi seorang pembimbing yang mempu memberikan bimbingan kepada peserta didik, terutama ketika peserta didik mendapatkan permasalahan akademik. Dengan berperan sebagai seorang pembimbing, seorang pendidik juga lebih dapat melakukan pendekatan secara emosional terhadap peserta didik. Jika sudah tercipta hubungan emosional yang positif antara pendidik dan peserta didiknya, maka proses pembelajaran akan tercipta secara menyenangkan;

5. Mengevaluasi Hasil Pembelajaran

Tugas utama guru adalah mengajar di dalam kelas, serta melakukan evaluasi dari hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan mempelajari psikologi Pendidikan, diharapkan seorang guru mampu memberikan penilaian dan evaluasi secara adil, menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik, tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya.

 

Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Sistem Penilaian

Penilaian sistem pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melalui kajian psikologis, dapat memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan, dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik, setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.

 

Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai test psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.

 

Dikenal sejumlah test psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti:

1. Test Multiple Appitude Test (MAT);

2. Differensial Appitude Test (DAT);

3. EPPS dan alat ukur lainnya.

 

Pemahaman kecerdasan bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting dalam upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan, sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal. (Muawanah, 2018)

 

Rujukan

Idi, A. (2010). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Mohammad Ansyar. (2015). Kurikulum; Hakikat, Fondasi, Desain dan Pengembangan.

Jakarta: Kencana.

Muawanah. (2018). Implikasi Psikologi Perkembangan terhadap Pendidikan Anak Usia Dini.

Jurnal Vijjacariya, 5(2), 33–44.

Novianti. (2015). Peranan Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jupendas,

2(2), 55–60.

Zaini, M. (2009). Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Teras.

Aplikasi 4 Teori Belajar - Behaviorisme, Kognitivisme, Humanisme, Konstruktivisme

Aplikasi 4 Teori Belajar - Behaviorisme, Kognitivisme, Humanisme, dan Konstruktivisme

Aplikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran

Setelah mengkaji tentang teori behaviorisme maka kita ketahui bahwa istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, individu atau peserta didik pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement (Penguatan) dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perpendidikan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan.

 

Aplikasi teori behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau pendidik itulah yang harus dipahami oleh murid.

 

Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Karena teori behaviorisme memandang bahwa sesuatu yang ada di dunia nyata telah tersetruktur rapi dan teratur, maka peserta didik harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik.

 

Tujuan pembelajaran menurut teori behaviorisme ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku tersebut. Thorndike (Schunk, 2012) kemudian merumuskan peran yang harus dilakukan pendidik dalam proses pembelajaran, yaitu:

1. Membentuk kebiasaan peserta didik. Jangan berharap kebiasaan itu akan terbentuk dengan sendirinya.

2. Berhati-hati jangan sampai membentuk kebiasaan yang nantinya harus diubah, karena mengubah kebiasaan yang telah terbentuk adalah hal yang sangat sulit.

3. Jangan membentuk kebiasaan dengan cara yang tidak sesuai dengan bagaimana kebiasaan itu akan digunakan.

4. Bentuklah kebiasaan dengan cara yang sesuai dengan bagaimana kebiasaan itu akan digunakan.

 

Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar. Maksudnya, bila peserta didik menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan pendidik, hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan peserta didik secara individual.

 

Salah satu contoh pembelajaran behaviorisme adalah pembelajaran terprogram (PI/Programmed Instruction), dimana pembelajaran terprogram ini merupakan pengembangan dari prinsip-prinsip pembelajaran Operant conditioning yang di bawa oleh Skinner. Schunk (2012) menyatakan bahwa pembelajaran terprogram melibatkan beberapa prinsip pembelajaran. Dalam pembelajaran terprogram, materi dibagi menjadi frame-frame secara berurutan yang setiap frame memberikan informasi dalam potongan kecil dan dilengkapi dengan test yang akan direspon oleh peserta didik.

 

Pada jaman modern ini, aplikasi teori behaviorisme berkembang pada pembelajaran dengan powerpoint dan multimedia. Pembelajaran dengan powerpoint, cenderung terjadi satu arah. Materi yang disampaikan dalam bentuk powerpoint disusun secara rinci dan bagian-bagian kecil. Sementara itu pada pembelajaran dengan multimedia, peserta didik diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan pengembang, materi disusun dengan perencanaan yang rinci dengan urutan yang jelas, latihan yang diberikan pun cenderung memiliki satu jawaban benar. Feedback pada pembelajaran dengan multimedia cenderung diberikan sebagai penguatan dalam setiap soal, hal ini serupa dengan program pembelajaran yang pernah dikembangkan Skinner (Collin, 2012). Skinner mengembangkan model pembelajaran yang disebut “teaching machine” yang memberikan feedback kepada peserta didik bila memberikan jawaban benar dalam setiap tahapan dari pertanyaan test, bukan sekedar feedback pada akhir test.

Aplikasi Teori Kognitivisme dalam Pembelajaran

Teori kognitivisme menekankan pada proses perkembangan peserta didik. Meskipun proses perkembangan peserta didik mengikuti urutan yang sama, namun kecepatan dan pertumbuhan dalam proses perkembangan itu berbeda. Dalam proses pembelajaran, perbedaan kecepatan perkembangan mempengaruhi kecepatan belajar peserta didik, oleh sebab itu interaksi dalam bentuk diskusi tidak dapat dihindarkan. Pertukaan gagasan menjadi tanda bagi perkembangan penalaran peserta didik. Perlu disadari bahwa penalaran bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan secara langsung, namun perkembangannya dapat disimulasikan.

 

Hakekat belajar menurut teori kognitivisme dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaian dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitivisme ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behaviorisme. Kebebasan dan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi peserta didik. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip- prinsip sebagai berikut:

1. Peserta didik bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya.

2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda konkrit.

3. Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan peserta didik maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.

4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan setruktur kognitivisme yang telah dimiliki peserta didik.

5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.

6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Tugas pendidik adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui peserta didik.

7. Adanya perbedaan individual pada diri peserta didik perlu diperhatiakan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.

 

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwasanya dalam teori belajar yang dikembangkan oleh bruner melalui 3 tahap, yaitu tahap enaktif, tahap ikonik dan tahap simbolik. Ketiga tahapan ini dilakukan pada kegiatan inti pembelajaran. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2014) menerapan teori Bruner untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran simetri lipat, menerapkan 3 tahapan kegiatan pembelajaran, yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Strategi ini dipilih karena dipandang dapat mengoptimalisasikan interaksi semua unsur pembelajaran. Penerapan teori Bruner dalam pembelajaran dapat menjadikan peserta didik lebih mudah dibimbing dan diarahkan. Adapun tahapan dalam teori Bruner sebagai berikut:

1. Tahap enaktif; pada tahap ini pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau dengan menggunakan situasi nyata,

2. Tahap ikonik; pada tahapan ini pengetahuan dipresentasikan dalam bentuk bayangan visual atau gambar yang menggambarkan kegiatan konkret yang terdapat pada tahap enaktif, dan

3. Tahap simbolik; pada tahap ini pengetahuan dipresentasikan dalam bentuk simbol-simbol.

 

Kemampuan pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan intelektual peserta didik sangat menetukan untuk dapat tidaknya suatu konsep dipelejari dan dipahami peserta didik. Terdapat dua fase dalam menerapkan teori belajar Ausubel (Sulaiman, 1988), yaitu:

1. Fase perencanaan

Pada fase perencanaan, pendidik melakukan beberapa hal seperti dibawah ini,

a. Menetapkan Tujuan Pembelajaran

b. Mendiagnosis latar belakang pengetahuan peserta didik.

c. Membuat struktur materi

d. Memformulasikan Advance Organizer. Advance organizer dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1) mengkaitkan materi pelajaran dengan struktur pengetahuan peserta didik. 2) mengorganisasikan materi yang dipelajari peserta didik

2. Fase Pelaksanaan

Setelah fase perencanaan, pendidik menyiapkan pelaksanaan dari model Ausubel ini. Untuk menjaga agar peserta didik tidak pasif maka pendidik harus dapat mempertahankan adanya interaksi dengan peserta didik melalui tanya jawab, memberi contoh perbandingan dan sebaginya berkaitan dengan ide yang disampaikan saat itu Pendidik hendaknya mulai dengan advance organizer dan menggunakannya hingga akhir pelajaran sebagai pedoman untuk mengembangkan bahan pengajaran.

 

Langkah berikutnya adalah menguraikan pokok-pokok bahan menjadi lebih terperinci melalui diferensiasi progresif. Setelah pendidik yakin bahwa peserta didik mengerti akan konsep yang disajikan maka ada dua pilihan langkah berikutnya yaitu:

a. Menghubungkan atau membandingkan konsep-konsep itu melalui rekonsiliasi integrative dan

b. Melanjutkan dengan difernsiasi progresif sehingga konsep tersebut menjadi lebih luas.

Aplikasi Teori Humanisme dalam Pembelajaran

Teori Humanisme sering dikritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sukar meterjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih konkrit dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori Humanisme mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut. Semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri.

 

Pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh pendidik dalam merencanakan pembelajaran. Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas ke arah mana ia akan berkembang. Dengan demikian teori Humanisme mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.

 

Teori Humanisme akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori Humanisme ini masih sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik untuk memahami hakekat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut.

 

Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk peserta didik, mungkin saja berguna bagi pendidik tetapi tidak berarti bagi peserta didik (Rogers dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori Humanisme. Menurut teori ini, agar belajar bermakna bagi peserta didik, diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari peserta didik sendiri. Maka peserta didik akan mengalami belajar eksperiensial (experiential learning).

 

Pada teori Humanisme, pendidik diharapkan tidak hanya melakukan kajian bagaimana dapat mengajar yang baik, namun kajian mendalam justru dilakukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana agar peserta didik dapat belajar dengan baik. Jigna dalam jurnal CS Canada (2012) menekankan bahwa “To learn well, we must give the students chances to develop freely”. Artinya untuk menghasikan pembelajaran yang baik, pendidik harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang secara bebas.

 

Pendidikan modern mengalami banyak perubahan jika dibandingkan dengan pendidikan tradisional. Dalam pendidikan tradisional Proses belajar terjadi secara stabil, dimana peserta didik dituntut untuk mengetahui informasi melalui buku teks, memahami informasi yang mereka dapatkan dan menggunakan informasi terbut dalam aktivitas keseharian peserta didik. Sedangkan dalam pendidikan modern, peserta didik menyadari hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran, hal ini menunjukkan hubungan dua arah antara pendidik dan peserta didik. Dalam Pendidikan modern peserta didik memanfaatkan teknologi untuk membuat kognisi, pemahaman dan membuat konten pembelajaran menjadi lebih menarik dan lebih berwarna.

 

Pada aplikasi teori humanisme sangat baik bila pendidik dapat membuat hubungan yang kuat dengan peserta didik dan membantunya untuk berkembang secara bebas. Dalam proses pembelajaran, pendidik dapat menawarkan berbagai sumber belajar kepada peserta didik, seperti situs-situs web yang mendukung pembelajaran. Inti dari pembelajaran humanism adalah bagaimana memanusiakan peserta didik dan membuat proses pembelajaran yang menyenangkan. Dalam prakteknya teori Humanisme ini cenderung mengarahkan peserta didik untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar.

Aplikasi Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Aplikasi teori konstruktivisme jika dikaitkan dengan pembelajaran proses pembelajaran modern adalah berkembangnya pembelajaran dengan web (web learning) dan pembelajaran melalui social media (social media learning). Smaldino, dkk (2012) menyatakan bahwa pembelajaran pada abad ke 21 telah banyak mengalami perubahan, intergrasi internet dan social media memberikan perspektif baru dalam pembelajaran.

 

Pembelajaran dengan social media memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi, berkolaborasi, berbagi informasi dan pemikiran secara bersama. Sama halnya dengan pembelajaran melalui social media, pembelajaran melalui web juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melengkapi satu atau lebih tugas melalui jaringan internet. Selain itu juga dapat melakukan pembelajaran kelompok dengan menggunakan fasilitas internet seperti google share. Model pembelajaran melalui web maupun social media ini sejalan dengan teori konstruktivisme, dimana peserta didik adalah pembelajar yang bebas yang dapat menentukan sendiri kebutuhan belajarnya.

 

Beberapa aplikasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian dan lebih mendekatkan kepada konsep-konsep yang lebih luas

2. Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide peserta didik

3. Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber- sumber data primer dan manipulasi bahan

4. Peserta didik dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.

5. Pengukuran proses dan hasil belajar peserta didik terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara pendidik mengamati hal- hal yang sedang dilakukan peserta didik, serta melalui tugas-tugas pekerjaan

6. Peserta didik  banya belajar dan bekerja di dalam group proses

7. Memandang pengetahuan adalah non objektif, berifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu.

Belajar adalah penyusunan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar peserta didik termotivasi dalam menggali makna.