Psikologi Perkembangan - Perspektif Masa Hidup (Life Span Perspective)

Perspektif Masa Hidup (Life Span Perspective)

Perkembangan adalah suatu proses perubahan dinamis yang terjadi baik dalam dimensi fisik maupun psikis serta bersifat kualitatif dan fungsional. Ada item psikologi perkembangan material dan formal. Perkembangan bersifat kualitatif dan psikologis, sedangkan pertumbuhan bersifat kuantitatif dan fisik. Jika ada pertumbuhan normal, perkembangan berjalan dengan lancar. Berfungsinya organ tubuh secara optimal didefinisikan sebagai kematangan (sebagaimana mestinya). Kedewasaan dapat berkembang tanpa proses belajar, tetapi harus terjadi bersamaan dengan proses tersebut. Perkembangan individu merupakan hasil perpaduan unsur internal (bawaan) dan eksternal (keinginan untuk berkembang). Banyak konsep pembangunan yang akan terus digunakan dalam memahami setiap tahapan pembangunan serta memperhatikan semua aspek dan regulasi yang ada.

Life span development

Lamanya hidup manusia (Life Span Development) dimulai dari kehamilan dan berlanjut melalui bayi baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia hingga kematian. Setiap orang di dunia pasti melalui aktivitas perkembangan pada suatu saat dalam hidupnya. Setiap tugas pengembangan harus diselesaikan sesuai dengan persyaratan fase pengembangan dan tidak boleh diabaikan. Hal ini karena jika suatu tugas perkembangan tidak diselesaikan pada suatu tahap tertentu, maka akan sulit bagi individu untuk menyelesaikan tugas perkembangan berikutnya. Perubahan manusia menggabungkan perubahan kualitatif dan kuantitatif yang disebabkan oleh perubahan mental dan tubuh. Perubahan kualitatif sering disebut sebagai perkembangan, dan perubahan kuantitatif sering disebut sebagai  pertumbuhan. Subyek pembahasan dalam psikologi perkembangan adalah perubahan subjektif, yang terkait dengan perkembangan mental yang rumit, meskipun faktanya orang mengharapkan pertumbuhan memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan mental.

Aspek-aspek Perkembangan

1. Aspek Fisiologi

aspek fisiologi merupakan sudut yang paling mencolok, hal ini ditegaskan dengan adanya perubahan aktual individu yang terjadi secara cepat mulai dari masa pra konsepsi hingga dewasa. perubahan tersebutdapat digambarkan dengan perubahan ukuran organ luar yang sebenarnya, misalnya tangan, kaki, tubuh yang semakin besar, lebih panjang, lebih luas, atau lebih tinggi. Untuk sementara, perubahan pada organ dalam dipisahkan oleh perkembangan organisasi sel dan kerangka saraf yang rumit, dengan tujuan agar mereka dapat membangun batas kapasitas kelenjar, bahan kimia, dan gerakan terkoordinasi.

2. Aspek psikologil

aspek psikologil adalah perspektif yang mengarah ke pikiran individu. Dimana setiap pertambahan usia manusia harus mengalami peningkatan perkembangan mental. Misalnya, ketika seorang anak kecil mengalami cedera yang sangat parah, itu akan mempengaruhi atau mempengaruhi pikiran dan pola pikir dalam dirinya sehingga dapat mempengaruhi perubahan mentalnya.

3. Aspek psikososial

Aspek psikososial merupakan perspektif yang mengarah pada naluri manusia sebagai makhluk yang bersahabat dimana manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Masyarakat diharapkan memiliki pilihan untuk menyesuaikan dan berkomunikasi dengan keadaan mereka saat ini. Dengan berkomunikasi dengan lingkungan dan individu di sekitarnya, ia sebenarnya ingin mengubah pemahaman, perspektif, mentalitas, dan perilaku individu, karena ada pertukaran informasi, adat istiadat, budaya, dan kecenderungan.

Sifat-sifat Perkembangan

Perkembangan Masa Hidup (life span), Pendekatan ini menggaris bawahi beberapa perubahan penting yang dialami indivdu terjadi selama masa kanak-kanak hingga dewasa. Menurut pakar perkembangan masa hidup, Paul Baltes, perspektrif perkembangan masa hidup (life-span perspective) mencakup tujuh kandungan dasar yaitu: Perkembangan bersifat seumur hidup, multidimensional, multidireksional, plastis, melekat secara kesejarahan, multidisiplin, dan kontekstual.

Berikut adalah penjelasan dari setiap kandungan tersebut.

1. Perkembangan bersifat seumur hidup.Tidak ada periode usia yang mendominasi perkembangan hidup. Perkembangan meliputi keuntungan dan kerugian, yang berinteraksi dalam cara yang dinamis sepanjang siklus kehidupan. Sehingga selama proses bertambahnya usia, maka selama itulah proses perkembangan akan terus berjalan.

2. Perkembangan bersifat multidimensional. Perkembangan terdiri atas dimensi biologis, kognitif, dan sosial. Dimensi inilah yang dikaji dalam setiap periode perkembangan manusia. Bahkan dalam satu dimensi semacam intelegensi, terdapat banyak komponen, seperti intelegensi abstrak, intelegensi nonverbal, intelegensi sosial, dan lain-lain

3. Perkembangan bersifat multidireksional. Beberapa dimensi atau komponen dari suatu dimensi dapat meningkat dalam masa pertumbuhan, sementara dimensi lainnya menurun. Misalnya, orang dewasa akan lebih arif dalam berpikir mengingat pengalaman yang banyak, tetapi disisi lain ia merasa mudah lelah jika malakukan pekerjaan berat.

4. Perkembangan bersifat lentur (plastic). Bergantung pada kondisi kehidupan individu, perkembangan terjadi melalui banyak cara yang berbeda. Sehingga manusia satu dan lainnya belum tentu memiliki proses perkembangan yang sama. Misalnya, kemampuan penalaran orang dewasa dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan orang dewasa lainnya melalui pengalaman pribadi.

5. Perkembangan melekat secara kesejarahan. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor sejarah dimana individu hidup. Seorang berusia 40 tahun mengalami depresi berat akibat perang dunia pertama, akan berbeda dengan seorang berusia 40 tahun mengalami depresi pada waktu sekarang ini.

6. Perkembangan dipelajari oleh berbagai multidiplin. Para pakar psikologi, sosiologi, antropologi, neurosains, dan peneliti kesehatan semuanya mempelajari perkembangan manusia dan berbagi persoalan untuk membuka misteri perkembangan masa hidup manusia.

7. Perkembangan bersifat kontekstual. Perkembangan manusia mengikuti konteks yang meliputi linkungan, sosial, kebudayaan, dan lain-lain. Sehingga individu dilihat sebagai makhluk yang sedang berubah di dalam dunia yang sedang berubah. Dengan mempelajari perkembangan masa hidup atau psikologi perkembangan, maka kita akan menemukan informasi tentang siapa kita, bagaiamana kita dapat seperti ini dan kemana masa depan akan membawa kita.

Teori-teori Perkembangan

1. Teori Psikoanalisis

Psikoanalisa adalah teori yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak usia dini.

 

Menurut Freud, kepribadian memiliki 3 tingkat kesadaran yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconcious). Hingga sampai pada tahun 1923, Freud mengenalkan 3 model struktural lain, yaitu ID, EGO, dan SUPER EGO. Struktur yang baru ini tidak mengganti struktur yang sebelumnya, tetapi melengkapi gambar mental dalam hal fungsi dan tujuannya.

Konsep Id, Ego, dan Super Ego

Kosep Id


Konsep Ego


Konsep Super Ego

Dilakukan secara reflek atau tidak sadar. Misalnya: tidak mau kalah, tidak mau direndahkan, gengsi

Dilakukan secara sadar dan didahului dengan aktivitas berpikit untuk menemukan alternatif terbaik. Misalnya: marah, merajuk, memberontak

Melahirkan sebuah keyakinan karena aktivitas yang dilakukan sudah dirasa etis di masyarakat. Misalnya: menerima keadaan, memahami kenyataan

 

Tahap perkembangan psikoanalisa

1.  Tahap Oral (0-18 bulan), fokus pada kebutuhan oral dan kepuasan.

2. Tahap Anal (18 bulan-3 tahun), fokus pada kebutuhan anal dan kontrol

3. Tahap Falis (3-6 tahun), fokus pada kebutuhan seksual dna identitas

4. Tahap Laten (6 tahun-pubertas), fokus pada pengembangan sosial dan emosi.

5. Tahap genita (sejak pubertas-selanjutnya), fokus pada pengembangan seksual dan identitas

2. Teori kognitif

Teori kognitif mengungkapkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan presepsi dan pemahaman yang dapat diukur dan diamati. Teori ini lebih berorientasi pada studi bagaimana siswa belajar berpikir. Fokus studiya adalah pada pertanyaan perkembangan kognitif. Ada 2 tokoh yang berperan besar dalam pengembangan teori kognitif, yaitu Jean Piaget dan Vygotsky, kedua tokoh ini memiliki pendapat yang berbeda mengenai pengembangan kognitif pada anak-anak.

Teori Kognitif Piaget

Piaget menemukan struktur kognitif tentang bagaimana anak mengembangkan konsep dunia di sekitar mereka. Piaget mengatakan bahwa perkembangan intelektual merupakan hasil interaksi antara faktor bawaan sejak lahir dengan lingkungan. Pengetahuan dibangun dan ditemukan oleh anak-anak pada saat mereka berkembang dan secara konstan berinteraksi dengan lingkungan (Friedman & Schustack, 2006).

Piaget mengidentifikasi empat tahap perkembangan kognitif, yaitu:

1. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun): Anak memahami dunia melalui pengalaman sensorimotor.

2. Tahap Praoperasional (2-7 tahun): Anak memahami dunia melalui penggunaan simbol dan bahasa.

3. Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun): Anak memahami dunia melalui penggunaan logika dan operasi konkret.

4. Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas): Anak memahami dunia melalui penggunaan logika dan operasi abstrak.

Teori Kognitif Vygotsky

Menurut pandangan Vygotsky, ada 2 jenis perkembangan kognitif yaitu: (a) kemampuan kognitif melalui alat psikologis melalui media kata, bahasa, dan diskursus untuk mentransformasikan aktivitas mental; (b) kemampuan kognitif yang dipengaruhi oleh reaksi sosial dan latar belakang sosiokultural.

3. Teori Behavioristik

Teori behavioristik merupakan teori yang didasarkan pada perubahan perilaku yang bisa diamati dan diukur. Teori ini memfokuskan diri pada sebuah pola perilaku baru yang diulangi sampai perilaku tersebut menjadi otomatis dan membudaya. Dalam kegiatan pembelajaran, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, karena pengukuran merupakan indikator penting untuk melihat ada/tidaknya perubahan tingkah laku. Tokohtokoh yang berperan dalam pengembangan teori behavioristik ini adalah Ivan Pavlov, Edward Lee Thorndike, John Broades Watson, Clark Leaonard Hull, Edwin Ray Guthrie, dan B. F. Skinner.

Teori Behavioristik Ivan Pavlove

Teori behaviorisme Ivan Pavlov adalah teori yang menjelaskan bagaimana perilaku manusia dapat dibentuk melalui stimulus dari lingkungan. Teori ini juga dikenal sebagai pengondisian klasik. 

Untuk menunjukkan teorinya, Pavlov melakukan eksperimen mengenai fungsi kelenjar ludah pada anjing.  Awalnya, Pavlov memperhatikan anjingnya yang selalu mengeluarkan air liur ketika asistennya memasuki ruangan. 

Untuk mengetahui hal tersebut, Pavlov dan asistennya mengenalkan barang yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan. Selama proses mengenalkan tersebut, Pavlov tetap mengukur air liur yang diproduksi anjing. Bagi Pavlov, air liur merupakan respons alami, bukan kondisi atau pikiran aning.  Selain itu Pavlov menyadari satu hal lagi bahwa tanpa adanya makanan dan bau, air lir anjing tetap keluar. Hal ini menandakan bahwa hal tersebut bukan proses fisiologi semata.

Air liur yang keluar saat asisten masuk ke ruangan merupakan refleks yang terkondisi.  Pavlov kemudian melanjutkan penelitian menggunakan bunyi sebagai sinyal netral. Setiap ada bunyi, makanan disajikan. Lalu produksi air liur anjing dijadikan ukuran.  Selanjutnya, Pavlov menggunakan metronome dibunyikan tanpa adanya makanan. Karena sudah terbiasa dengan bunyi, air liur tetap keluar.

Berdasarkan eksperimen Pavlov diperoleh kesimpulan berkenan dengan beberapa cara perubahan tingkah laku yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Misalnya seorang siswa dimarahi karena ujian biologinya buruk. Saat siswa melakukan ujian kimia dia juga akan menjadi gugup karena kedua pelajaran tersebut saling berkaitan

Teori Behavioristik Thorndike

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/ tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku sebagai akibat dari kegiatan belajar memiliki wujud yang kongkrit dan dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.

Teori Behavioristik Watson

J.B. Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.

Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar

Teori Behavioristik Hull

Clark Leaonard Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.

Teori Behavioristik Guthrie

Sebagaimana Hull, Edwin Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar siswa perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya penguatan (reinforcemant) dalam teori belajarnya, sehingga hukuman tidak lagi dipentingkan dalam belajar.

Teori Behavioristik Skinner

Teori Skinner merupakan teori behavioristik yang paling banyak diperbincangkan, karena konsepnya mampu mengungguli teori-teori yang dikemukakan oleh tokoh sebelumnya. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi di lingkungannya akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Dalam hal ini Skinner mengkaji operant behaviour yaitu perilaku yang sengaja digunakan dalam kegiatan di lingkungan. Mekanisme pengkondisian operant behavior dilakukan dengan:

1. pemberian penguatan positif melalui imbalan: respons yang diberi imbalan kemungkinan mau mengulangi;

2. penguatan negatif: respons yang ingin lari dari rasa sakit atau situasi yang tidak diharapkan, kemunkinan tidak akan mau mengulangi;

3. tidak ada penguatan: respons yang tidak diperkuat kemungkinan tidak akan mau mengulangi;

4.     hukuman: respon yang membawa rasa sakit atau konsekuensi yang tidak diharapkan, akan tertekan.

4. Teori Etologi

Teori etologi merupakan sebuah studi mengenai tingkah laku, khususnya tingkah laku pada binatang. Teori ini juga menjelaskan bahwa pada dasarnya sumber dari semua perilaku sosial ada dalam gen. Ada insting dalam makhluk hidup untuk mengembangkan perilakunya. Teori ini memberikan pemahaman dasar tentang periode kritis perkembangan dan perilaku yang melekat pada anak segera setelah dilahirkan. Dalam ilmu psikologi, etologi berarti ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam pengaturan yang alami. Teori etologi menjelaskan bahwa perilaku manusia mempunyai relevansi dengan perilaku binatang. Sifat menonjol yang ada pada binatang antara lain sifat mempertahankan wilayah, bertindak agresif, dan perasaan ingin menguasai sesuatu. Tokoh yang berperan dalam pengembangan teori etologi modern adalah Konrad Zacharias Lorenz.

Lorenz menemukan bahwa ada periode kritis atau periode penting, tak lama setelah penetasan, selama mana imprinting akan terjadi. Imprinting ini memilki 2 pinsip, yaitu tiga tahun pertama dan terbatas oleh waktu.

Related Posts:

0 Comments:

Post a Comment