Contoh Penulisan BAB 1 - Bagian 1


![]() |
1.
Latar Belakang
2.
Rumusan Masalah
3.
Hipotesis
4.
Pengertian Judul
5.
Tinjauan Pustaka
6.
Metode Penelitian
7.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian
8.
Daftar Pustaka
9.
Komposisi Bab
Latar Belakang Penelitian adalah dasar suatu penelitian yang menjelaskan alasan-alasan, masalah, perbedaan hingga apa yang akan diteliti dalam suatu penelitian. Permasalahan yang diteliti harus dijelaskan dalam lingkup yang lebih luas hingga sedetil mungkin, biasanya menyerupai segitiga terbalik.
![]() |
skema segitiga terbalik penyusunan latar belakang penelitian |
Selain itu, peneliti juga harus menyatakan bahwa belum ada peneliti
terdahulu yang memecahkan permasalahan yang terjadi atau jika
sudah ada peneliti terdahulu yang melakukan penelitian tersebut, maka peneliti
harus menyatakan perbedaan antara penelitian yang ia lakukan dengan peneliti
terdahulu.
Dengan kata lain, Latar belakang penelitian bukan hanya sekedar tentang
alasan peneliti tertarik untuk meneliti masalah tersebut, melainkan penjelasan
yang lebih detail baik secara luas yang bisa berisi data pendukung (tabel/grafik)
ataupun fakta yang terkait dengan variabel (sesuatu yang diteliti).
Variabel, secara singkat merupakan sesuatu yang menjadi fokus pengkajian dan untuk merumuskannya dibutuhkan teori, konsep, atau proposisi yang jelas. Sebab jika tidak, anda mungkin akan kesulitan untuk memformulasikan masalah penelitian dan mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk suatu penelitian.
Pada saat anda menyusun latar belakang, mulai pemabahasan secara luas
terlebih dahulu berkaitan dengan tujuan penelitian anda. Karena setiap
penelitian memiliki tujuan yang berbeda, berikut contoh judul seabagai gambaran
“Analisis Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Sengkang tentang Pembagian
Harta Bersama akibat Perceraian”
Pada judul tersebut sudah terlihat bahwa penelitian tersebut bertujuan
untuk mencari tahu pertimbangan hukum pengadilan agama Sengkang tentang masalah
pembagian harta bersama yang diakibatkan
setelah terjadinya perceraian.
Jadi focus pembahasan pertama adalah variable Perceraian. Dari sini tugas
anda cukup mencari tahu hal-hal yang terkait dengan perceraian secara luas
(makro).
Caranya, coba pikirkan lebih mendalam, perceraian itu membahas tentang
apa? Pekerjaan? Pernikahan? Atau Pendidikan? Tentu yang benar tentang pernikahan.
Selanjutnya, coba pikir lebih dalam lagi…. Karena perceraian merupakan
bagian yang terjadi dalam pernikahan, apa yang bisa menjadi sengketa dalam
pernikahan jika terjadi perceraian apakah pembagian harta orang tua? Atau
pembagian harta Bersama? Tentunya pembagian harta Bersama.
Kemudian, kita pikirkan lebih lanjut… karena pembagian harta Bersama
harus dibagi dengan adil maka dimana hal ini bisa diputuskan? Apakah di kantor
KUA? Atau di pengadilan agama? Tentu di pengadilan agama
Jadi secara berurutan, mulailah pembahasan latar belakang dari pernikahan > perceraian > pembagian harta Bersama> Pengadilan agama
![]() |
contoh skema penyusunan latar belakang penelitian |
Tapi ingat penjelasan ini bukan ilmu pasti. Yang jelas mulailah dari pembahasan yang lebih luas sebelum Anda masuk ke variabel utama. Dalam contoh ini, Anda boleh-boleh saja memulai pembahasan dari topik pernikahan > masalah-masalah dalam pernikahan > perceraian > pembagian harta Bersama > pengadilan agama.
Setelah anda menentukan garis besar hal yang akan anda bahas di latar
belakang penelitian. Selanjutnya anda perlu membahas variable tersebut. Untuk contoh
variable untuk judul penelitian “Analisis Pertimbangan
Hakim Pengadilan Agama Sengkang tentang Pembagian Harta Bersama akibat
Perceraian” hanya menggunakan satu variable
yakni Perceraian. Maka yang harus anda lakukan bahas variabel tersebut yang dimulai dari topik
yang lebih luas sampai dengan topik yang lebih mengkerucut. Jangan lupa
menyertakan teori terkait dan hasil penelitian terdahulu. Misalnya seperti
berikut:
“Dalam pemisahan harta Bersama apabila berlangsung perceraian diantara keduanya, maka bisa diajukan ke Pengadilan Agama guna diperiksa oleh Hakim, guna melindungi pihak ketiga. Harta pernikahan akibat sengketa setelah terjadi perceraian, maka harta Bersama dalam pernikahan umumnya dibagi dua sama rata diantara suami dan istri. Sementara itu, harta bawaan dan harta perolehan tetap otomatis menjadi hak milik pribadi masing-masing yang tidak perlu dibagi secara bersama-sama (Felicitas Marcelina Waha, 2013:54).”
Teori tersebut menjelaskan alasan anda untuk menggunakan pembagian harta Bersama setelah perceraian sebagai indicator yang perlu diberikan perhatian agar masing-masing
pihak tidak ada yang merasa dirugikan pada masalah perceraian. Jadi Ketika anda
membahas tentang variabel perceraian, maka sertakan teori yang terkait. Begitu
juga dengan variable lainnya.
Sementara itu, untuk hasil penelitian terdahulu yang benar adalah
peneliti terdahulu menggunakan minimal 1 variabel yang sama untuk contoh judul
di atas. Misalnya seperti hasil penelitian berikut:
“Hasil penelitian yang diperoleh Rochaeti (2013) memngungkapkan bahwa pembagian harta Bersama dalam pernikahan perlu didasarkan pada aspek keadilan untuk semua pihak, keadilan yang dimaksud mencakup bahwa pembagian harta tersebut tidak mendiskriminasikan salah satu pihak. Kepentingan tiap pihak perlu diakomodasi asalkan cocok dengan realitas yang sebetulnya.”
Terkait dengan pro kontra, bisa saja bagian ini anda tampilkaan pada
tahap kedua yakni pada bagian penelitian terdahulu. Karena pada dasarnya, tidak
semua penelitian memberikan hasil sama meskipun menggunakan variabel yang sama
serta teori yang sama.
Jika tidak ada pro dan kontra dari hasil penelitian terdahulu, Anda juga
boleh menambahkan issue yang terkait dengan variabel penelitian. Issue seperti
apa?
Misalnya, katakanlah anda melakukan penelitian tentang perceraian di Kota
Sengkang. Kemudian anda mendapatkan berita buruk tentang kasus perceraian yang terjadi
di Kota Sengkang menyatakan ada salah satu pihak merasa didiskriminasikan.
Issue terkait seperti ini boleh saja Anda masukkan ke bagian latar
belakang yang penting setiap paragraph harus nyambung dan enak dibaca. Selain
itu, anda harus sertakan sumber issue tersebut.
Keberadadaan issue bersifat pelengkap yang membuat latar belakang penelitian
anda menjadi lebih kuat, jika tidak ada juga tidak apa-apa.
Sertakan pernyataan
bahwa Anda melakukan Penelitian dengan judul apa, pada 1 Paragraf terakhir dalam
Latar Belakang. Upayakan mengaitkannya dengan Latar Belakang secara
keseluruhan. Misalnya seperti ini:
Istilah pertumbuhan
dan perkembangan dalam dunia psikologi dan pendidikan selalu mempunyai kaitan
yang sangat erat. Istilah ini sering digunakan secara bergantian namun sebenarnya
keduanya mempunyai pengertian yang berbeda. Sesuatu yang tumbuh adalah sesuatu
yang bersifat material dan kuantitatif, sedangkan berkembang adalah suatu yang
bersifat fungsional dan kualitatif. (Tadjab,1994:19).

sumber:www.tribunnewswiki.com
Pada diri seorang
anak gejala pertumbuhan dan perkembangan selalu menyatu dalam proses belajar.
Hal ini erat kaitannya dengan tingkat kemampuan, keinginan, serta kejenuhan anak
dalam kegiatan belajar dan tentunya akan berpengaruh pada hasil belajar itu
sendiri.
Masganti Sit (2012)
mengemukakan bahwa perkembangan adalah bertambah kemampuan atau skill dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat
diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Perkembangan menyangkut adanya
proses pematangan sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem organ
yang berkembang dengan menurut caranya, sehingga dapat memenuhi fungsinya.
Hartinah (2008)
menyatakan bahwa perkembangan adalah proses perubahan kualitatif yang mengacu
pada kualitas fungsi organ-organ jasmaniah dan bukan pada organ jasmani
tersebut sehingga penekanan arti perkembangan terletak pada penyempurnaan
fungsi psikologis yang termanifestasi pada kemampuan organ fisiologis. Proses
perkembangan akan berlangsung sepanjang kehidupan manusia, sedangkan proses
pertumbuhan seringkali akan berhenti jika seorang telah mencapai kematangan
fisik.
Berdasarkan dari
kedua pengertian perkembangan dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
perkembangan adalah proses penyempurnaan fungsi psikologis yang bersifat
kualitatif yang terus berkembang seiring bertambahnya usia seseorang.
Menurut Al-Ghazali,
pada diri manusia terkumpul sekaligus empat dimensi kejiwaan. Semuanya memiliki
berbagai aspek dengan fungsi dan daya masing-masing, baik yang bersifat lahiriah
dan dapat diamati maupun yang batiniah tak teramati. Adapun dimesni tersebut
yaitu: dimensi ragawi (al-jism), dimensi nabati (al-natiyyah), dimensi hewani
(al-hayawaniyyun), dan dimensi insani (al-insaniyyah).
Perkembangan
manusia bergerak maju melalui suatu urutan teratur. Sejarah biologis dan
evolusi spesies menentukan urutan tersebut. Tingkat kemajuan anak dalam
melangkah melalui urutan genotip anak menentukan individu, yaitu nenek
moyangnya mempengaruhi latar belakang keturunan anak. Seorang anak yang
berkembang dengan kecepatan lambat bila dibandingkan dengan anak lain tidak
dapat diubah dari arah yang sedang ditempuhnya, begitu juga dengan anak yang
berkembang lebih cepat tidak bisa diubah arahnya.
Teori ekologi
dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917) yang fokus utamanya adalah pada
konteks sosial di mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan
anak. lima sistem lingkungan teori ekologi Bronfenbrenner terdiri dari lima sistem
lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh
kultur yang
lebih luas. Lima
sistem tersebut antara lain:
a. Mikrosistem
adalah setting
dimana individu menghabiskan banyak waktu;
b. Mesosistem
adalah kaitan
antar-mikrosistem. Contoh adalah hubungan antara pengalaman dalam keluarga
dengan pengalaman di sekolah, dan antara keluarga dan teman sebaya;
c. Eksosistem
(exosystem)
terjadi ketika pengalaman di setting lain (dimana murid tidak berperan aktif)
memengaruhi pengalaman murid dan guru dalam konteks mereka sendiri;
d. Makrosistem
adalah kultur yang
lebih luas. Kultur adalah istilah luas yang mencakup peran etnis dan faktor
sosioekonomi dalam perkembangan anak;
e. Kronosistem
adalah kondisi
sosiihistoris dari perkembangan anak. Misalnya, murid-murid sekarang ini tumbuh
sebagai generasi yang tergolong pertama (Louv, 1990). anak-anak sekarang adalah
generasi pertama yang mendapatkan perhatian setiap hari, generasi pertama yang tumbuh
di lingkungan elektronik yang dipenuhi oleh komputer dan bentuk media baru,
generasi pertama yang tumbuh dalam revolusi seksual, dan generasi pertama yang
tumbuh di dalam kota yang semrawut dan tak terpusat, yang tidak lagi jelas
batas antara kota, pedesaan atau subkota.
Teori perkembangan
kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak
beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian disekitarnya.
Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek, seperti mainan,
perabot, dan makanan, serta objek-objek social seperti diri, orang tua dan
teman.
Berdasarkan para
ahli tersebut, menyebutkan berbagai macam terkait teori perkembangan dalam
proses perkembangan Pendidikan. Terdapat banyak pendapat ahli lainnya yang
dapat menjadi rujukan dalam teori perkembangan terhadap Pendidikan.
Jean Peaget seorang
pakar psikologi terkemuka mengklasifikasi urutan perkembangan kognitif anak ini
yakni sebagai berikut:
Pada fase ini
pengalaman kognitif anak didasarkan pada perlakuan panca indra anak.
Perkembangan kognitif akan tampak bila anak memiliki banyak pengalaman
interaksi dengan lingkungan khusunya bersifat material/fisik. Beberapa tahapan
kemampuan yang dapat dideteksi adalah sebagai berikut: a. kemampuan mengenali,
b. kemampuan mengingat. Dalam fase ini disarankan pada orang tua untuk lebih
banyak memberi pengalaman tambahan pada anak, kemudian pengulangan pengalaman
dengan mengingatkan anak.
Pada fase ini
pengalaman kognitif anak didasarkan pada pengkayaan pengalaman baik interaksi
dengan lingkungan maupun pengulangan ingatan.
Beberapa kecakapan
baru yang penting adalah kemajuan yang sungguh pesat dalam pengumpulan kosa
kata. Anak umur 2 tahun memiliki 200 kosa kata, untuk umur lima tahun 2000 kata
begitu seterusnya.
Dalam fase ini
disarankan agar orang tua untuk lebih banyak berinteraksi dengan bahasa dan
kata kata yang semakin kaya, bercerita, bernyanyi dan lain sebagainya. Pada
bagian yang sama anak disamping memiliki kemampuan meniru juga telah mampu
mendayagunakan imajinasinya. Latihan berekspresi keindahan baik pada dunia seni
maupun apresiasi kehidupan sudah saatnya diberi kesempatan.
Pada fase ini
pengalaman kognitif anak berangsur beralih dari dunia fantastif ke dunia nyata,
maka logis tidaknya satu keadaan telah menjadi pertimbangan tindakannya.
Pada saat inilah
maka kita disarankan untuk membimbing kreatifitas, mengembangkan keterampilan
dan mendorong keberanian yang positif pada anak.
Dalam fase terakhir
ini pengalaman kognitif anak telah kaya dengan pengalaman baik itu yang
bersifat kongkrit maupun abstrak. Berfikir secara rasional semakin kentara dengan
memberanikan diri memilah mana yang logis mana yang imajinatif dan abstrak.
Perkembangan fase
ini bukan hanya dibimbing dan dikembangkan, tetapi harus lebih banyak mendapat
perhatian tentang kendali tindakan anak, karena fase ini lebih banyak mendapat
perhatian tentang kendali tindakan anak. Karena fase ini beriringan dengan fase
pubertas pada aspek emosional anak.
Kemahiran seorang
anak diiringi dengan seperangkat vitalitas kehidupan baik itu jasmaniah,
rohaniah, maupun eksistensi. Jasmaniah artinya seperangkat fisik yang mengalami
pertumbuhan, maka harus dipupuk diberi materi agar mampu bertahan hidup, sehat
maka pendidikan jasmaniah diawali dari konsep ini. Rohaniah adalah seperangkat psikis
yang mengalami perkembangan, maka harus dibina dan diberi bimbingan agar mampu
memiliki arti kehidupan. Eksistensi artinya seperangkat nilai yang mengalami
perobahan keberadaan, maka harus dikembangkan dan diarahkan agar anak mempunyai
satu nilai sosial dalam lingkungannya.
Keluarga modern
sadar anak-anak mereka tidak akan menikmati perkembangan akal sempurna, kecuali
jika mereka mendapatkan Pendidikan. Mereka harus mendapat kesempatan yang cukup
di rumah, keluarga, sekolah dan masyarakat pada umumnya untuk mengembangkan,
menumbuhkan, dan menggarap kesediaan bakat, minat, dan kecakapan intelektual
anak tersebut. Untuk itu aspek yang menjadi perhatian utama psikologi dalam pendidikan
adalah pewarisan atau pemindahan budaya, nilai, ilmu, dan keterampilan dari
generasi tua kepada generasi muda. (Hasan Langgulung,1988:390).
Menjadikan anak
cerdas, terampil, dan sopan santun memang merupakan tugas besar bagi pendidik,
orang tua, guru, dan masyarakat. Cita ideal kemampuan anak yang dilihat dari
sudut perkembangan ini tentulah seiring dengan tujuan pendidikan nasional, maka
setidaknya ada dua pernyataan yang harus dijawab, apa dan bagaimana jalan yang
harus dilakukan.
Pertama, adalah dengan
pengenalan makna cerdas, terampil, dan moralitas bagi lingkungan kehidupan
anak, yang menurut kurikulum harus selalu dititipkan pada tiap jenjang, tiap
jenis dan bahkan tiap institusi pendidikan.
Kedua, adalah dengan
memberikan pengalaman yakni; a) pengasahan otak agar dapat berfikir kritis dan
obyektif, b) pelatihan fisik agar dapat terampil dan cekatan dalam bertindak, serta,
c) penghayatan hati agar dapat menyadari arti dan keberadaan dirinya ditengan
tengah kehidupan.
Pendekatan
psikologi moderen tentu tidak memihak pada satu dari dua jalan di atas, dimana
mengupayakan satu konsepsi dengan pendayagunaan potensi anak bukan hanya
disadarkan pada aspek kemampuan pada anak. Akan tetapi juga kemampuan
pengelolaan yang kuat untuk membimbing dan membina potensi tadi.
Justru psikologi
kognitif lebih mengarahkan pada adanya keterpaduan yang mampu memberikan
jembatan antara perkembangan kogitif dengan usaha yang dilakukan lewat penciptaan
lingkungan yang telah dan terpadu. Artinya penciptaan lingkungan yang dapat
menyuburkan perkembangan kognitif anak harus dimulai dari lingkungan orang tua
kemudian guru. Orang tua lebih memberikan kesempatan kreatifitas anak, dan guru
memberikan bimbingan kemajuan fikiran anak sekaligus orang tua dan guru
memberikan pengendalian kognitif anak.
Hartinah. 2008. Perkembangan
Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama.
Hasan Langgulung. 1988.
Asas Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Al Husnah.
Masganti Sit. 2012.
Perkembangan Peserta Didik (Pertama; Muhammad Yunus Nasution, ed.).
Medan: Perdana Publishing.
Tadjab. 1994. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya: Karya
Abditama.
![]() |
| (sumber: www.lms.syam-ok.unm.ac.id) |
1. Pengertian Psikologi
2. Pengertian Pendidikan
3. Pengertian Psikologi Pendidikan
4. Hubungan Psikologi
dengan Ilmu Pendidikan
Psikologis berasal
bahasa Yunani terdiri dari kata Psyche atau psikis yang artinya jiwa dan logos
yang berarti ilmu. Secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang
mempelajari tentang ilmu-ilmu kejiwaan. (L. Sandra, 2012) Namun karena jiwa itu
abstrak dan tidak dapat dikaji secara empiris, maka kajiannya bergeser pada
gejala-gejala jiwa atau tingkah laku manusia, oleh karena itu yang dikaji
adalah gejala jiwa atau tingkah laku.
Gejala jiwa yang
dijadikan obyek pembahasan dalam psikologi ada empat macam yakni; gejala
pengenalan (kognisi), gejala perasaan (emosi), gejala kehenak (konasi), dan
gejala campuran (kombinasi). (M.Dimyati,1990:2).
Kata psikologi berasal
dari bahasa inggris psychology yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa. Kata
pychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani),
yaitu: (1) psyche yang berarti jiwa; (2) logos yang berarti ilmu. Secara harfiyah
psikologi memang berarti ilmu jiwa.
Menurut Walgito (2010),
Psikologis adalah ilmu tentang perilaku atau aktivitas-aktivitas individu.
Perilaku atau aktivitas-aktivitas tersebut dalam pengertian luas yakni perilaku
yang tampak atau perilaku yang tidak tampak, demikian juga dengan aktivitas-aktivitas
tersebut di samping aktivitas motorik juga termasuk aktivitas emosional.
Sebelum menjadi disiplin
ilmu yang mandiri pada tahun 1879 M, psikologi memiliki akar-akar yang kuat
dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga kini (sekarang) masih tampak
pengaruhnya. Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa-apa yang
terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah). Sedangkan dalam
filsafat, psikologi berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang
berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan. Karena kontak dengan berbagai
disiplin itulah, maka timbul bermacam-macam defenisi psikologi yang satu sama
lain berbeda, seperti: (Muhibbinsyah, 2010)
a. Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental
(the science of mental life);
b. Psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science
of mind);
c. Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the
science of behavior); dan lainlain
defenisi yang sangat
bergantung pada sudut pandang yang mendefenisikannya.
Istilah pendidikan dalam
bahasa Inggris adalah education, berasal dari bahasa latin educate,
dapat diartikan kegiatan pembimbingan keberlanjutan (to lead forth).
Maka dapat dikatakan secara etimologis yakni mencerminkan keberadaan pendidikan
yang berlangsung dari generasi kegenerasi, sepanjang eksistensi kehidupan
manusia. Secara teoritis, para ahli berpendapat, antara lain: (Suparlan
Suhartono, 2007)
a. Bagi manusia pada umumnya, pendidikan berlangsung
sejak 25 tahun sebelum kelahiran. Pendapat tersebut didefinisikan bahwa sebelum
menikah, terdapat kewajiban bagi siapapun untuk mendidik diri sendiri terlebih
dahulu, sebelum mendidik anak keturunannya;
b. Bagi manusia individual, pendidikan dimulai
sejak bayi lahir dan bahkan sejak masih dalam kandungan. Memperhatikan pendapat
tersebut, dapat dikatakan bahwa keberadaan pendidikan melekat erat di dalam
diri manusia sepanjang zaman.
Sedangkan, menurut UU No. 20 tahun
2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. (Undang-undang Republik Indonesia,
2006)
Pengertian Pendidikan
menurut para ahli:
a. Moses (2012) menyatakan bahwa pendidikan adalah
proses pengalihan pengetahuan secara sistematis dari seseorang kepada orang
lain, sesuai standar yang telah ditetapkan oleh para ahli. Dengan adanya
transfer pengetahuan tersebut, diharapkan dapat merubah sikap tingkah laku,
kedewasaan berpikir serta kedewasaan kepribadian ke dalam pendidikan formal dan
pendidikan informal.
b. Teguh Triyanto (2014) mengemukakan bahwa pendidikan
adalah usaha menarik sesuatu di dalam manusia, sebagai Upaya memberikan
pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal
di sekolah maupun luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup, bertujuan optimalisasi
kemampuan individu untuk di kemudian hari dapat melaksanakan peranan hidup
secara tepat.
c. Muhammad Irham (2013) mengungkapkan pendikakan merupakan
proses pengalihan pengetahuan secara sadar dan terencana, untuk mengubah
tingkah laku manusia, serta mendewasakan manusia melalui proses pembelajaran
dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, maupun informal
Pendidikan merupakan
salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia, begitupun dalam hal
berbangsa dan bernegara Pendidikan merupak aspek penting yang harus terus
ditingkatkan. Sebab, majunya suatu negara ditentukan oleh majunya pendidikan
dalam negara tersebut.
Penelusuran makna dua
kata psikologi dan Pendidikan di atas dapat dijadikan dasar untuk melihat lebih
jauh pengertian dan definisi psikologi pendidikan. Dengan maksud untuk memahami
lebih luas psikologi dan pendidikan dari sudut masing masing, berikut beberapa
definisi Psikologi Pendidikan yang pernah dikemukakan para ahli.
a. Roudlege, (1974) mendefinisikan Psikologi
pendidikan merupakan ilmu pengetahuan psikologi yang memberi sumbangsih
terhadap dunia Pendidikan, dalam kegiatan Pendidikan, pembelajaran,
pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, serta layanan
konseling, merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap peserta didik,
pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah, agar tujuan pendidikan dapat
tercapai secara sempurna dan tepat guna
b. Tas’di (2019) mengungkapkan bahwa Psikologi
pendidikan merupakan alat bantu yang penting bagi para penyelenggara pendidikan
dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Prinsip-prinsip yang terkandung
dalam psikologi pendidikan dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak
dalam mengelola proses belajar-mengajar. Setidak-tidaknya terdapat 10 (sepuluh)
macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan prinsip-prinsip psikologis,
antara lain: Seleksi penerimanaan siswa baru, Perencanaan pendidikan,
Penyusunan kurikulum, penelitian kependidikan, Administrasi pendidikan,
Pemilihan materi pelajaran, Interaksi belajar mengajar, Pelayanan bimbingan dan
konseling, dan Pengukuran dan evaluasi.
Beberapa hal penting
dalam psikologi pendidikan di antaranya: (Novianti, 2015)
a. Psikologi pendidikan adalah pengetahuan
kependidikan yang didasarkan atas hasil-hasil temuan riset psikologis;
b. Hasil-hasil temuan riset psikologi tersebut
kemudian dirumuskan sedemikian rupa hingga menjadi konsep-konsep, teori-teori,
dan metode-metode serta strategi-strategi yang utuh;
c. Konsep, teori, metode dan strategi tersebut
kemudian disistemasikan sedemikian rupa hingga menjadi “repertoire of
Resources”, yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dapat
dipilih dan digunakan untuk praktik-praktik kependidikan khusunya dalam
mengajar-mengajar
Psikologi dan ilmu pendidikan tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena antara psikologi dengan ilmu
pendidikan mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu pendidikan sebagai suatu
disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai
mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik jika tidak dibarengi dengan
psikologi. Demikian pula watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh
psikologi. Oleh karena begitu eratnya hubungan antara psikologi dengan ilmu
pendidikan, maka lahirlah yang namanya psikologi pendidikan.
Dasar-dasar psikologis ini sangat dibutuhkan
para pendidik untuk mengetahui prilaku anak didiknya, apakah anak didiknya
dalam keadaan yang baik saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran, atau dalam
keadaan yang tidak baik. Kalau demikian, pendidik sangat membutuhkan
pengetahuan ini untuk mengatasi anak didik yang seperti itu dan memotivasinya
agar tetap dalam keadaan yang semangat dalam belajar. Selain untuk mengetahui
prilaku anak didiknya, dasar-dasar psikologis ini juga dapat mengendalikan
prilaku para pendidik dan memberikan prilaku yang lebih bijaksana dalam
menghadapi keanekaragaman karakteristik anak didiknya. Seorang pendidik memang
sangat membutuhkan pengetahuan seperti ini, agar dalam proses pembelajaran
dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan dan tentunya dapat berhasil
mencapai tujuan dengan cemerlang sesuai dengan lembaga pendidikan itu.
Psikologi dalam
pendidikan memiliki manfaat bagi guru antara lain: (Marbum S, 2018)
a. Memahami Perbedaan siswa (Diversity of Student)
Setiap individu
dilahirkan berbeda dengan keunikannya masingmasing, sehingga sebagai seorang
guru harus memahami perbedaan siswa-siswa nya mulai dari tugas perkembangannya
hingga potensi yang dimiliki;
b. Untuk Menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif di dalam
Kelas
Seorang pendidik harus
mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan
yang berbeda menyesuaikan karakteristik siswa dalam mengajar untuk menghasilkan
proses belajar mengajar yang lebih baik. Disinilah peran psikologi pendidikan
yang mampu mengajarkan bagaimana seorang pendidik mampu memahami kondisi
psikologis dan menciptakan suasana pembelajaran kondusif, agar pembelajaran di
dalam kelas bisa berjalan secara sehingga proses efektif;
c. Untuk Memilih Strategi dan Metode Pembelajaran
Jika seorang guru sudah
mempelajari tugas perkembanagn manusia, disinilah fungsinya agar guru dapat
menentukan model dan metode yang tepat bagi siswa agar siswa tetap menikmati
setiap proses pembelajaran.
L. Sandra. (2012). Dinamika Psikologis
Interaksi, Konsep Diri, Dan Identitas Online. Universitas Gajah Mada.
M. Dimyati Mahmud (1990), Psikologi
Pendidikan, Yogyakarta: BPEE.
Marbum S, M. (2018). Psikologi Pendidikan.
Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.
Moses, M. (2012). Analisis Pengaruh
Pendidikan, Pelatihan, dan Pengalaman Kerja terhadap Produktivitas Kerja
Pegawai Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Papua. Media RisetBisnis
& Manajemen, 12(1), 18–36.
Muhammad Irham. (2013). Psikologi
Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Muhibbinsyah. (2010). Psikologi Pendidikan
Dengan Pendekatan Baru (Revisi, Ce). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Novianti. (2015). Peranan Psikologi
Pendidikan Dalam Proses Belajar Mengajar. JUPENDAS, 2(2), 57.
Suparlan Suhartono. (2007). Filsafat
Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Tas’adi, R. (2019). Hakekat Dan Konsep Dasar
Psikologi Pendidikan, Belajar Dan Pembelajaran Serta Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhinya. ejounal.uinib.ac.id, 103-113.
Teguh Triyanto. (2014). Pengantar
Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Undang-undang Republik Indonesia. (2006). Undang-undang
Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. Bandung: Citra
Umbara.
1. Ragam Bahasa Ilmiah
2. Pilihan Kata (Diksi) dan
Kalimat
3. Paragraf sebagai unit
eksposisi (paparan)
4. Penulisan di sebagai kata depan dan awalan
5. Penulisan ke sebagai kata depan dan awalan
6. Penulisan partikel pun
7. Penulisan partikel per
8. Penggunaan tanda hubung (-)
9. Penggunaan spasi
Gaya bahasa dalam KTI adalah penerapan ragam bahasa ilmiah dengan
mengikuti kaidah penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Bahasa
Indonesia ragam ilmiah merupakan salah satu bahasa Indonesia yang digunakan
dalam menulis karya ilmiah. Ciri ragam Bahasa ilmiah antara lain: cendikia,
lugas, jelas, formal, objektif, konsisten, bertolak dari gagasan, ringkas, dan
padat.
Bahasa yang cendekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama,
sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh
pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif
sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Karena itu,
apabila sebuah kalimat digunakan untuk mengungkapkan dua buah gagasan yang
memiliki hubungan kausalitas, dua gagasan beserta hubungannya itu harus tampak
secara jelas dalam kalimat yang mewadahinya. Contoh:
|
Contoh 1 |
Contoh 2 |
|
Pada era globalisasi informasi ini dikhawatirkan akan terjadi
pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama karena pengaruh budaya
barat yang masuk ke Indonesia. |
Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi
pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengaruh budaya barat
yang masuk ke negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan
nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia. |
Kalimat pada contoh 1 secara jelas mampu menunjukkan hubungan sebab-akibat, tetapi tidak terungkap jelas seperti pada contoh 2
Paparan bahasa yang lugas akan menghindarkan dari kesalahpahaman dan
kesalahtafsiran isi kalimat. Penulisan yang bernada sastra perlu dihindari.
Contoh:
|
Tidak Lugas |
Lugas |
|
Mahasiswa sering mendapatkan tugas yang tidak
dapat dikatakan ringan sehingga kemampuan berfikirnya menjadi berada di
awang-awang. |
Mahasiswa sering mendapatkan tugas yang berat
sehingga kemampuan berfikirnya menjadi menurun. |
Gagasan akan mudah dipahami apabila (1) dituangkan dalam bahasa yang
jelas dan (2) hubungan antara gagasan yang satu dengan yang lain juga jelas.
Kalimat yang tidak jelas, umumnya akan muncul pada kalimat yang panjang.
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah bersifat formal dengan
menggunakan kosakata baku yang sesuai dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan) dan
PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Contoh:
|
Kata Formal |
Kata Nonformal |
|
1. Wanita 2. Daripada 3. Hanya 4. Membuat 5. Dipikirkan 6. Bagaimana 7. Matahari |
1. Cewek 2. Ketimbang 3. Cuman 4. Bikin 5. Dipikirin 6. Gimana 7. Mentari |
Sifat objektif tidak cukup dengan hanya menempatkan gagasan sebagai
pangkal tolak, tetapi juga diwujudkan dalam penggunaan kata. Kata yang
menunjukkan sikap ekstrem dapat memberi kesan subjektif dan emosional. Kata
seperti harus, wajib, tidak mungkin tidak, pasti, selalu perlu dihindari.
Contoh:
|
Kalimat subjektif |
Kalimat objektif |
|
1. Daun tanaman kedelai yang mengalami khlorosis kiranya disebabkan
oleh kekurangan unsur nitrogen. 2. Mahasiswa baru wajib mengikuti program pengenalan Program studi
di fakultasnya masing-masing. |
1. Daun tanaman kedelai yang mengalami khlorosis disebabkan oleh
kekurangan unsur nitrogen. 2. Mahasiswa-baru mengikuti program pengenalan program studi di
fakultasnya masing-masing. |
Unsur bahasa, tanda baca, dan istilah, sekali digunakan sesuai dengan
kaidah maka untuk selanjutnya digunakan secara konsisten.
Bahasa ilmiah digunakan dengan orientasi gagasan. Pilihan kalimat yang
lebih cocok adalah kalimat pasif, sehingga kalimat aktif dengan penulis sebagai
pelaku perlu dihindari, orientasi pelaku yang bukan penulis yang tidak
berorientasi pada gagasan juga perlu dihindari. Contoh:
|
Kalimat Aktif |
Kalimat Pasif |
|
1. Penulis menyimpulkan bahwa hifa cendawan pembentuk mikoriza yang
berasosiasi dengan akar tanaman mampu membantu tanaman untuk menyerap unsur
hara fosfor dan nitrogen. 2. Para dosen mengetahui dengan baik bahwa kurikulum sangat penting dalam
meningkatkan mutu pendidikan di perguruan tinggi. |
1. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hifa cendawan pembentuk mikoriza
yang berasosiasi dengan akar tanaman mampu membantu tanaman untuk menyerap
unsur hara fosfor dan nitrogen. 2. Kurikulum sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di
perguruan tinggi. |
Ciri padat merujuk pada kandungan gagasan yang diungkapkan dengan
unsur-unsur bahasa. Karena itu, jika gagasan yang terungkap sudah memadai
dengan unsur bahasa yang terbatas tanpa pemborosan, ciri kepadatan sudah
terpenuhi. Keringkasan dan kepadatan penggunaan bahasa tulis ilmiah juga
ditandai dengan tidak adanya kalimat atau paragraf yang berlebihan dalam
tulisan ilmiah. Contoh:
|
Tidak Ringkas dan Padat |
Ringkas dan Padat |
|
Tri dharma perguruan tinggi sebagaimana yang tersebut pada
Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Tinggi menjadi
ukuran kinerja dan prosedur standar setiap sivitas akademika. |
Tri dharma perguruan tinggi menjadi ukuran kinerja setiap sivitas
akademika. |
Penulisan karya tulis ilmiah menggunakan pesan-pesan tersurat, bukan
tersirat. Oleh karenanya, Bahasa yang digunakan harus konkrit,
tersurat/eksplisit, dan jelas dalam mendeskripsikan isi. Karya tulis ilmiah
dikatakan bagus jika mampu mendefinisikan rincian observasi atau penelitian
yang telah dilakukan.
Karya tulis ilmiah mempunyai format yang universal sehingga tidak
terdapat penyimpangan isi tentang topik yang dibahas. Ekspresi tulisan dalam
karya tulis ilmiah ini harus terumus dengan baik dan mudah dimengerti. Ketika
Menyusun karya tulis ilmiah sebaiknya buat agar pesan yang disampaikan akurat
dan pemaca tidak terjebak pada Bahasa yang digunakan. Agar dapat menyampaikan
pesan dengan akurat maka harus melatih diri untuk tidak memasukkan kata-kata
yang emosi atau pendapat pribadi dan bias dalam tulisan. Penulis harus
melakukan penyederhanaan ekspresi berbahasa, misalnya mengganti frase-frase
yang Panjang menjadi pendek dan langsung menuju sasaran seperti conton berikut:
|
Frase |
Pengganti |
|
a.
Sejumlah besar b.
Teramat sangat penting c.
Besarnya lebih dari |
a.
Banyak b.
Sangat penting c.
… kali lipat |
Selain penggunaan kata, kalimat
yang dipakai pun harus efektif dan mampu menyampaikan pesan secara langsung,
adapun contohnya sebagai berikut:
|
Kalimat Tidak Efektif |
Kalimat Efektif |
|
a. Maka oleh karenanya tidak diharapkan bahwa …. b. Guru seharusnya mempunyai peran sebagai …. c. Membahayakan bagi penderita d. Membicarakan tentang keuntungan penjualan e. Mengharapkan akan bantuan f. Para karyawan saling bantu-membantu g. Keharusan daripada dilakukannya Tindakan
pencegahan |
a. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa …. b. Guru seharusnya berperan sebagai …. c. Membahayakan penderita d. Membicarakan keuntungan penjualan e. Mengharapkan bantuan f. Para karyawan saling membantu g. Keharusan melakukan pencegahan |
Angka mempunyai properti yang cocok untuk penulisan ilmiah karena tepat, objektif, tidak ambigu, dan tanpa emosi. Angka dapat digunakan untuk mendeskripsikan banyak hal di dunia nyata, misalnya luas, jarak, dan ukuran. Oleh karena kata sifat dalam bentuk angka merupakan alat deskripsi yang ideal dalam bidang iptek, maka kita dapat menjelaskan kata sifat yang dipakai dengan menggunakan angka. Sebagai contoh, ‘tinggi’ dapat dideskripsikan dengan ‘lebih dari 2 meter’ atau mungkin ‘berat’ dideskripsikan dengan ‘kurang dari 100 kg’, dan sebagainya. Bahkan untuk kata yang sifatnya sangat subjektif, misalnya ‘pandai’ dapat diterangkan dengan skala nilai 0 sampai 10.
Tentu saja angka tidak
dapat ditulis secara tersendiri. Ketika kata-kata yang dapat mendeskripsikan
bahwa suatu hal dapat dihitung, maka kita harus mencari pilihan kata yang
paling objektif menggambarkan hal tersebut. Kebiasaan menulis dapat membantu
untuk menghilangkan istilah-istilah yang sifatnya relatif atau subjektif.
Kebiasaan tersebut misalnya dengan cara tidak menggunakan:
a. Ekspresi yang batasannya tidak jelas, seperti
beberapa, jangka panjang, sungguh, jangka pendek, sesuatu, semacam, sangat, dan
sebagainya.
b. Kata-kata yang mengekspresikan pendapat pribadi,
seperti tentunya, elok, pastilah, mengecewakan, semoga, sayangnya, dan
sebagainya.
c. Kata-kata yang pada hakikatnya hanya merupakan ‘filler’ atau sisipan, seperti baiklah, pada dasarnya, ternyata, dan sebagainya.
Dalam karya tulis
ilmiah, tiap-tiap paragraf harus mengandung gagasan utama dan setiap jeda antar
paragraf dapat diumpamakan sebagai waktu bagi pikiran untuk menghela nafas.,
seperti gambaran berikut:
Gagasan 1 – Jeda -
Gagasan 2 - Jeda, dan seterusnya.
Sebagian besar pembaca menyerap gagasan teks dalam porsi yang kecil dan paragraf ilmiah harus tercakup dalam porsi yang kecil tersebut. Kita dapat memperkirakan daya serap suatu paragraf dengan melihat jumlah kalimatnya. Jumlah ideal kalimat dalam sebuah paragraf adalah 4 sampai 5 kalimat. Oleh karena itu, kita harus menyederhanakan paragraf agar pembaca dapat bernafas dan mengistirahatkan pikiran sejenak.
a.
Kalimat Utama
Paragraf dalam tulisan
ilmiah dimulai dengan menyatakan gagasan utama. Maka, kalimat utama
memberitahukan pembaca tentang fokus sebuah paragraf. Kalimat utama dapat
berada di awal paragraf (deduktif) dan di akhir paragraf (induktif).
b.
Kalimat Penjelas
Kalimat lainnya adalah
kalimat penjelas, yakni kalimat yang menjelaskan gagasan utama. Anda dapat
menyusun kalimat-kalimat tersebut untuk:
1. Memberikan contoh-contoh poin penting,
2. Menjelaskan contoh-contoh tersebut,
3. Mengingatkan pembaca bahwa poin penting tersebut
merupakan bagian dari pokok bahasan yang lebih luas,
4. Menyoroti implikasi poin-poin utama,
Ilmuwan harus bisa membaca paragraf yang kita tulis tanpa jeda, maka tulisan dalam paragraf tersebut harus mempunyai alur. Agar tulisan kita tetap mengalir, setiap kalimat harus terangkai dengan kalimat selanjutnya. Hal ini dapat kita ciptakan misalnya dengan menempatkan subjek atau objek kalimat sebelumnya menjadi subjek atau objek pada kalimat selanjutnya. Kepaduan dan kesatuan antarkalimat dalam paragraf ini dikenal dengan istilah koherensi. Isi kalimat penjelas harus senantiasa menjelaskan kalimat utama.
Dengan konsep yang sama pada kohesi antar kalimat, kita dapat menciptakan kesatuan dan keutuhan antarparagraf atau lebih dikenal dengan kohesi antarparagraf. Hal ini ditujukan agar alur antarparagraf tetap padu. Kohesi antarparagraf ini biasa dicptakan dengan menggunakan kata penghubung yang seakan-akan menjadi jembatan penghubung.
Di yang berfungsi
sebagai kata depan harus dituliskan terpisah dari kata yang mengiringinya.
Biasanya di sebagai kata depan ini berfungsi menyatakan arah atau tempat dan merupakan
jawaban atas pernyataan dimana.
Contoh penggunaan
di kata depan:
di samping
di rumah
di persimpangan
di sebelah utara
di pasar
Di- yang berfungsi
sebagai awalan membentuk kata kerja pasif dan harus dituliskan serangkai dengan
kata yang mengikutinya. Pada umumnya, kata kerja pasif yang berawalan di-dapat
diubah menjadi kata kerja aktif yang berawalan meng-(meN-).
Misalnya:
Diubah berlawanan dengan
mengubah
Dipahami berlawanan
dengan memahami
Dilihat berlawanan
dengan melihat
Dimeriahkan berlawanan
dengan memeriahkan.
Diperlihatkan berlawanan dengan memperlihatkan.
Ke yang berfungsi
sebagai kata depan, biasanya menyatakan arah atau tujuan dan merupakan jawaban
atas pertanyaan ke mana.
Misalnya:
Ke belakang
ke kecamatan
ke lokasi penelitian
ke atas
ke sini dsb.
Sebagai patokan kita, ke
yang dituliskan terpisah dari kata yang mengiringinya jika kata-kata itu dapat
dideretkan dengan kata-kata yang didahului kata di dan dari.
Misalnya :
|
Ke sana Ke kalan raya Ke kecamatan Ke berbagai |
Di sana Di jalan raya Di kecamatan Di berbagai |
Dari sana Dari jalan raya Dari kecamatan Dari berbagai dsb. |
Ke- yang tidak
menunjukkan arah atau tujuan harus dituliskan serangkaian dengan kata yang
mengiringinya karena ke-seperti itu tergolong imbuhan.
Misalnya:
Kelima kepagian
Kehadiran ketrampilan
Kekasih kepanasan
Kehendak kedinginan
Ketua kehujanan
Catatan:
Ke pada kata kemari,
walaupun menunjukkan arah, harus dituliskan serangkaian karena tidak dapat
dideretkan dengan di mari dan dari mari. Selain itu, penulisan ke pada kata
keluar harus dituliskan serangkai jika berlawanan dengan kata masuk. Misalnya
: saya ke luar dari organisasi itu. Akan tetapi, jika ke luar itu
berlawanan dengan ke dalam, ke harus dituliskan terpisah.
Misalnya, Pandangannya diarahkan ke luar ruangan.
Pada dasarnya, partikel pun
yang mengikuti kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan harus
dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya karena pun di sana
merupakan kata yang lepas.
contoh:
Menangis pun di rumah pun
Seratus pun satu kali pun
Berlari pun tingginya pun
Negara pun apa pun
Sesuatu pun ke mana pun
Akan tetapi, kata-kata
yang mengandung pun berikut harus dituliskan serangkai karena sudah dianggap
padu benar. Jumlah kata seperti itu tidak banyak, hanya dua belas kata, yang
dapat dihapal di luar kepala, yaitu adapun, andaipun, bagaimanapun, biarpun,
kalaupun, ataupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan
walaupun.
Partikel per yang
berarti "mulai" demi atau "tiap" dituliskan terpisah dari
kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Per meter per kilogram
Per orang per Oktober
Per orang per Januari
Per kapita per liter
Akan tetapi, per yang
menunjukkan pecahan atau imbuhan harus dituliskan serangkaian dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
Lima perdelapan perempat
final
Empat pertiga satu
perdua
Dua pertujuh tujuh
persembilan
Tanda hubung digunakan
untuk merangkaikan kata ulang.
contoh:
dibesar-besarkan bolak-balik
berliku-liku meloncat-loncat
ramah-tamah kait-mengait
compang-camping tolong-menolong
Tanda hubung juga harus
digunakan antara huruf kecil dan huruf capital kata berimbuhan, baik awalan
maupun akhiran, dan antara unsur kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan kata
yang mengikutinya yang diawali huruf capital.
Misalnya:
rahmat-Nya se-Jawa Barat
non-RRC di sisi-Nya
se-DKI Jakarta non-Palestina
KTP-Nya Sinar-X
Antara huruf dan angka
dalam suatu ungkapan juga harus digunakan tanda hubung. Misalnya:
ke-2 ke-50
uang 500-an 90-an
ke-100 tahun abad 20-an
Jika dalam tulisan terpaksa digunakan kata-kata asing yang belum diserap, kemudian kata itu diberi imbuhan bahasa Indonesia, penulisannya tidak langsung diserangkaikan, tetapi dirangkaikannya dengan tanda hubung. Dalam hubungan ini, kata asingnya perlu digarisbawahi (cetak miring).
Misalnya:
men-charter di-recall
di-charter di-calling
di-coach men-tackle
Penggunaan spasi setelah tanda baca sering
tidak diindahkan. Menurut ketentuanyang berlaku, setelah tanda baca (titik,
koma, titik koma, titik dua, tanda satu, tanda Tanya) harus ada spasi, jarak
satu pukulan ketikan.
Tim Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kemendikbud. 2018. Modul Pelatihan Teknis Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Depok: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.
Wasmana. 2019. Modul Penulisan Karya Ilmiah. Siliwangi: Sekolah Tinggi dan Ilmu Kependidikan Siliwangi